28 Juli 2026 superadmin 19
Bantul (MTsN 9 Bantul) – Murid kelas VII MTsN 9 Bantul mengikuti praktik proses perendaman kain (mordanting) sebagai tahap awal pembuatan batik dalam kegiatan pembelajaran luar kelas di Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Bantul, Selasa (28/07/2026). Tahapan ini menjadi langkah penting sebelum kain memasuki proses pewarnaan sekaligus memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada para murid mengenai proses pembuatan batik tulis.
Dalam kegiatan tersebut, para murid mempelajari bahwa menghasilkan kain batik yang berkualitas memerlukan persiapan yang teliti. Proses perendaman dilakukan untuk membuka pori-pori kain serta menghilangkan kotoran alami sehingga zat warna dapat terserap secara optimal dan menghasilkan warna yang lebih kuat serta tidak mudah luntur.
Guru pendamping, Noor Shofiyati, menjelaskan bahwa tahapan awal ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus membentuk karakter murid. Menurutnya, melalui proses perendaman, murid belajar memahami prosedur teknis, memperhatikan ketepatan waktu, serta mengenali fungsi setiap tahapan dalam pembuatan batik. Di sisi lain, mereka juga belajar menumbuhkan kesabaran dan menghargai kerja keras para perajin batik.
"Melalui proses persiapan ini, murid belajar bahwa setiap karya yang baik memerlukan proses yang panjang dan teliti. Mereka memahami pentingnya mengikuti setiap tahapan sekaligus belajar menghargai dedikasi para perajin dalam menghasilkan batik berkualitas," jelas Noor Shofiyati.
Berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas, praktik langsung di Kampung Batik Giriloyo memberikan kesempatan kepada murid untuk mengamati sekaligus melakukan setiap tahapan secara mandiri dengan bimbingan para perajin batik. Para murid tampak antusias mengikuti arahan saat mencelupkan dan merendam kain sebagai persiapan sebelum proses pewarnaan.
Salah satu murid, Husain Ibrahim Fauzi, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.
"Ternyata sebelum digambar dan diwarnai, kain harus direndam terlebih dahulu. Saya jadi tahu bahwa membuat batik membutuhkan proses yang panjang dan tidak bisa terburu-buru," ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, MTsN 9 Bantul berharap murid tidak hanya memahami teknik dasar membatik, tetapi juga semakin menghargai proses, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia, serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna melalui pembelajaran di luar kelas. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kokurikuler yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan karakter murid. (wwt)